Select Page

Pernah tidak, sih, Ibu merasa bingung saking banyaknya pilihan foto si kecil yang mau di-posting? Atau seperti Puty Puar di dalam Komik Persatuan Ibu-Ibu nih yang bingung mau unggah foto lucu si kecil, tapi ibunya kelihatan gendut? Atau saat si kecil pakai kostum lucu, tapi giliran di foto justru manyun?

Aktivitas jepret-menjepret lalu mengunggah ke media sosial ini lah yang bukan lagi menjadi ranah anak muda saja, tetapi juga para orang tua khususnya ibu-ibu muda yang memiliki anak-anak lucu. Sering kali para ibu-ibu begitu rajin mengabadikan setiap momen tumbuh kembang anak ke media sosial. Terlebih pada musim liburan sekarang ini. Bawaannya gatal gitu ingin sharing foto, apalagi kalau geng ibu-ibu juga pada sharing foto yang lucu-lucu bareng sepupu atau seru-seruan di tempat liburan. Bawaannya ingin pamer juga!

Namun, apakah ibu-ibu tahu bahwa penjahat-penjahat juga dapat mengintai si kecil lewat unggahan media sosial Ibu?

Tidak usah takut ya, banyak cara-cara sederhana yang bisa dilakukan Ibu agar meminimalisasi kejahatan online yang melibatkan si kecil kok. Contohnya dengan menghindari menuliskan lokasi dari foto yang diambil, atau untuk lebih amannya
posting foto tersebut jika Ibu dan si kecil sudah tidak berada di tempat tersebut. Hal ini bertujuan agar orang yang ingin berbuat jahat tidak segera mendatangi tempat si buah hati. Selain itu, Ibu harus hati-hati dengan identitas si kecil ya. Misalnya nih, ibu-ibu kegirangan si kecil sudah mulai masuk playgroup, lalu mengabadikan momen tersebut dan mengunggahnya.

Tanpa sadar, si kecil menggunakan name tag yang tidak hanya bertuliskan nama, tetapi identitas lainnya. Hal ini terlihat remeh, tetapi berbekal informasi singkat tersebut, penjahat dapat dengan mudah melacak dan melakukan kejahatan. Atau, mereka memanfaatkan situasi kala orang tua tidak ada di sekitar si kecil. Sering sekali kita harus pergi jauh tanpa si kecil, lalu ibu-ibu menulis status atau mengunggah foto si kecil dan mengungkapkan kerinduan kepada si kecil ke media sosial. Tanpa sadar, Ibu telah memberikan alarm bahwa anak ini dalam keadaan rentan karena tidak dalam pengawasan kita.

Terkadang, ibu-ibu suka mengabadikan ekspresi marah atau tangisan si kecil ke media sosial, niatnya sih untuk lucu-lucuan, tetapi hati-hati, lo, Bu. Foto-foto semacam ini juga bisa menurunkan tingkat kepercayaan diri si kecil. Bisa dalam waktu dekat, bisa juga dalam jangka panjang. Alangkah baiknya ibu-ibu bertanya kepada anak apakah dia keberatan foto tersebut diunggah ke media sosial. Menurut psikolog spesialis Internet Graham Jones mengatakan, “Sebelum anda update status, bayangkan Anda berdiri di tengah stadion besar, di tengah ribuan penonton. Tanyakan kepada diri Anda, apakah Anda, si kecil, dan keluarga cukup bahagia jika khalayak ramai mengetahui dengan yang Anda unggah?”

Bahkan, kepolisian Prancis mewanti-wanti ibu-ibu untuk selektif dalam mengunggah foto maupun video karena bisa-bisa melanggar privasi sang anak. Selain itu, hukuman dan denda yang diberikan tidak main-main, lo Bu. Bagi siapa pun yang memublikasikan dan mendistribusikan foto seseorang tanpa izin bisa dikenakan hukuman penjara hingga satu tahun dan denda 45.000 Euro.

Poin ini juga tidak kalah penting, Bu, mengingat maraknya pornografi anak secara online, yaitu jangan mem-posting foto anak yang “mengundang”. Baik telanjang, menggunakan pakaian mini, atau sedang mandi. Kadang ibu-ibu suka berdalih ”Apaan sih, kan masih anak-anak” atau ”Kan lucu, Bu, kalau di-posting.“ atau seperti Ibu Puty yang anaknya pup aja di-share ke media sosial. Bu, don’t. Foto yang dianggap lumrah dan lucu oleh kebanyakan orang ini “digemari” oleh para pedofil. Mantan polisi dan ahli perlindungan anak Inggris, Mark William-Thomas menuliskan dalam artikelnya, “Sebelum mengunggah
foto sebaiknya orang tua bertanya, apakah Anda senang jika foto-foto itu dilihat oleh orang-orang yang tidak Anda kenal, termasuk pelaku kejahatan seksual? Jika anda oke, ya, silakan unggah. Jika tidak, ya, jangan diunggah!”

Karena kalau dipikir-pikir, si buah hati juga berhak atas privasi anggota tubuh mereka. Jadi, sebagai ibu-ibu masa kini yang hobi banget cekrak-cekrik unggah, harus bijak, ya, dalam memilah mana yang perlu dan mana yang tidak. Kalau tidak hati-hati, bisa-bisa keselamatan si kecil yang jadi taruhannya.

Tapi namanya Ibu-Ibu pasti kita sering tidak tahan untuk tidak mengabadikan tumbuh kembang dan perilaku gemas si kecil di media massa bukan? Sama nih seperti Puty Puar yang mendeskripsikan dengan lugas dan jenaka kebiasaan ibu-ibu muda jaman now. Dikemas dalam kisah yang menarik, kegemaran untuk posting foto di sosial media pada ibu-ibu muda ini mampu membuat Anda berkaca dan tertawa dibuatnya. Tidak hanya itu saja, Puty Puar dalam Komik Persatuan Ibu Ibu-nya juga mengajak Anda untuk belajar melihat perjalanan motherhood jauh lebih menyenangkan dan berwarna. Melalui kemampuan terampilnya dalam doodling, Puty merangkum realita kehidupan yang sempat tersembunyi dalam Komik Ibu Ibu terbitan Bentang Pustaka dengan konsep jenaka namun tetap sarat akan nilai sosial di dalamnya.

Komik Ibu Ibu yang cocok sebagai teman curhat Anda di kala sedang jenuh dengan aktivitas!

Ayo tunggu apalagi, segera baca bukunya ya. Sudah tersedia di seluruh toko buku Indonesia!

 

Referensi :

http://www.ayahbunda.co.id/balita-tips/patuhi-aturan-upload-foto-anak-di-social-media-

http://www.femina.co.id/family/ramai-kasus-pedofilia-berikut-4-aturan-upload-foto-anak-di-media-sosial

 

Sumber foto :

www.unsplash.com