Select Page

Umur 6 bulan atau 180 hari menjadi hal yang membahagiakan dan mendebarkan untuk ibu-ibu yang memiliki buah hati, bukan? Umur-umur ini adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan makanan pendukung ASI atau MPASI kepada si kecil. Namun, bagaimana kalau anak malah sok cuek dan melancarkan aksi tutup mulut jika diberi makan? Pasti bingung, kan, Bu. Nah, kali ini kami akan berikan tip jitu bagi ibu-ibu yang mulai memberikan MPASI pada si kecil.

Perhatikan Konsistensi Tekstur Makanan

Dalam Komik Persatuan Ibu-Ibu, Bu Puty selalu sebel kalau saat menyusui, si Angkasa suka sekali gigit-gigit puting. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa anak sudah memiliki pengenalan terhadap tekstur. Sebelum usia 6 bulan, anak hanya merasakan sesuatu yang cair sebagai makanannya. Setelah 6 bulan, makanan pendamping diberikan, tetapi tetap harus halus, bahkan cenderung cair seperti bubur. Baru setelah 9 bulan saat anak mulai terbiasa dengan tekstur cair, Ibu mulai bisa naik ke level selanjutnya, yaitu memberikan makanan sedikit kasar, tetapi harus disesuaikan dengan mulut kecilnya, ya, Bu. Jenjang konsistensi pemberian MPASI ini bertujuan melatih mulutnya untuk dapat merasakan dan mengunyah dengan baik. Selain itu, pemberian MPASI dari lembut ke kasar juga melatih pencernaannya, lo, Bu. Jadi, harus cermat, ya, dalam memilah-milah.

Variasi Menu

Kata orang tua dulu, pisang adalah sahabat anak saat awal-awal pemberian MPASI. Memang tidak salah, Bu, tetapi coba kenalkan makanan lain. Atau, padu padankan makanan tersebut dengan makanan lain. Selain buah, biasakan sang buah hati mengonsumsi sayur ya, Bu, minimal 2 jenis sayur per serving. Jika dirasa selama seminggu tidak ada gejala alergi, berarti aman-aman saja memberikan makanan tersebut kepada si kecil. Atau, Ibu bisa mencampurkan makanan dengan ASI. Hal ini juga mengurangi rasa kaget dari peralihan masa makanan cair ke padat si kecil, Bu.

Kenali Kegemaran dan Kondisi Anak

Kondisi pemberian makan kepada si kecil yang baik adalah dalam keadaan duduk tegak, tetapi kondisi ini kadang membuat si kecil bosan. Nah, Ibu bisa berpindah tempat, lo, Bu. Contohnya dudukkan anak di teras sehingga si kecil bisa melihat orang lalu lalang. Sesekali bercerita dan ajak berbicara si kecil untuk pengalihan saat disuapi makanan. Atau, anak Ibu sudah mulai seperti Angkasa pada Komik Persatuan Ibu-Ibu yang suka memasukkan benda asing ke dalam mulutnya? Coba berikan finger biskuit yang halus untuk digenggam. Selain sebagai pengalihan saat disuapi, biskuit ini melatih daya genggam si anak.

Sabar

Ini adalah kunci terpenting dari pemberian MPASI. Jangan berkecil hati, lo, Bu, kalau seumpama anak Ibu lebih sulit diberi makan daripada anak lainnya. Semua itu ada tahapan dan masanya tersendiri. Kalau kita sedikit-sedikit marah karena si kecil menolak diberi makan, bisa-bisa kita melewatkan hal-hal kecil yang disukai si kecil. Contohnya, ada anak yang ingin minum dulu baru mau diberi makan, atau maunya duduk di teras saat makan. Kalau kita sudah sibuk marah terlebih dahulu, bukannya berhasil menyuapi si kecil, eh, yang ada si kecil malah takut saat waktu makan telah tiba.

Sharing dengan Orang terdekat

Pengalaman adalah guru terbaik, itu memang betul adanya. Dan, pengalaman satu ibu dengan lainnya bisa saja berbeda. Nah, Ibu bisa, nih, sharing dengan ibu-ibu lainnya. Contohnya, seperti di Komik Persatuan Ibu-Ibu, Bu Puty sharing dengan ibu lainnya di grup chat. Pengalaman Ibu-Ibu ini menjadi second opinion tentang mengatasi anak yang susah makan MPASI. Kadang, ibu-ibu lainnya punya trik-trik antimainstream yang tentu saja bisa Ibu ikuti.

 

 

Sumber foto : www.unsplash.com